Musim Pancaroba, Masyarakat Harus Waspadai DBD

icon   Pada 25 September 2011 Bagikan ke :
Bengkalis – Saat ini musim memasuki masa pancaroba, yaitu pergantian antara musim penghujan dan kemarau. Masyarakat Kabupaten Bengkalis diingatkan untuk waspada, karena di masa pancaroba ini rawan akan hadirnya berbagai penyakit. Salah satu yang mesti diwaspadai adalah demam berdarah dengue (DBD).

Bupati H Syamsurizal mengimbau seluruh masyarakatnya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungannya serta bersama-sama memberantas jentik nyamuk dengan melakukan 3M, merupakan upaya terbaik mencegah terjangkitnya DBD.

Tindakan 3M tersebut adalah menguras tempat penampung air secara rutin, mengubur benda-benda bekas yang bisa menampung air serta menutup tempat penampungan air.

“Meskipun bentuknya kecil, kuburkan kalau ada kaleng dan benda yang tak berguna yang dapat menampung air. Sebagai contohnya, katanya, pipa cekung yang ukurannya 0,5 centimeter yang digenang air hujan, sudah cukup buat nyamuk DBD untuk berkembang biak,” katanya.

Didampingi Kadis Kesehatan H Edi Setiawan Ramli, imbauan itu disampaikannya usai mengikuti senam kesegaran jasmani di pantai pasir Bandar Sri Laksamana, Jum’at pagi (16/1).

Sementara bagi masyarakat yang tempat penampungan air besar, sangat dianjurkan memasukkan beberapa ekor jenis ikan pemakan jentik. Seperti bak besar yang tidak mungkin dikuras setiap saat. “Masukkan dua atau tiga ekor ikan,” sarannya lagi.

Kemudian, kata Syamsurizal lagi, pastikan sirkulasi udara dan cahaya di kamar dan rumah terjaga baik. Jangan biarkan ada pakaian atau yang tergantung. Karena tempat tinggal seperti ini, juga merupakan tempat yang paling disukai nyamuk DBD.

Kepada warganya yang tinggal di perkotaan, Syamsurizal minta untuk lebih waspada. Karena, daerah paling rawan serangan DBD adalah perkotaan. Memang, dari beberapa kasus DBD yang terjadi tahun-tahun sebelumnya, yang paling banyak korban adalah daerah yang padat penduduknya. Kemudian, daerah kumuh dan mobilitas penduduknya tinggi.

Sementara itu, Edi Setiawan mengatakan, setiap tahunya kasus tertinggi DBD di Kabupaten Bengkalis terjadi pada Maret sampai September. Karena itu dan saat ini sudah pertengahan Januari, Edi juga mengharapkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Menjaga kebersihan lingkungan dengan melakukan gerakan 3M.

Dijelaskan Edi, siapapun bisa terserang DBD tanpa mengenal faktor usia dan jenis kelamin. Karena itu dan agar penanganannya tepat, Edi berpesan agar masyarakat mengenali dengan baik ciri-ciri seseorang yang terserang DBD. Adapun ciri-cirinya, katanya, demam mendadak tinggi dan disertai sakit kepala hebat, sakit di belakang mata, badan ngilu dan nyeri, serta mual atau muntah.

”Kadang-kadang disertai bercak merah di kulit. Bila ada anggota keluarga masyarakat dengan ciri-ciri tersebut, beri minum yang cukup dan segera bawa ke sarana atau tenaga kesehatan terdekat,” katanya.

Mengenai kasus DBD yang terjadi di daerah ini pada 2009, Edi mengatakan belum ada. ”Untuk 2009, berdasarkan laporan yang masuk, hingga saat ini di Kabupaten Bengkalis, belum ditemukan kasus DBD,” kata Edi.