Pulau Bengkalis Jadi Ruang Belajar Konservasi Mangrove Nasional dan Global
Pada 07 Februari 2026 oleh Aldy Alfaraby
BENGKALIS - 5 Februari 2026 – Global Mangrove Alliance (GMA) Indonesia Chapter menggelar lokakarya “Pertukaran Pembelajaran Perlindungan dan Rehabilitasi Mangrove dalam Mendukung Country Proposition Indonesia” pada 3–5 Februari 2026 di Pulau Bengkalis, Provinsi Riau.

Kegiatan ini mempertemukan lebih dari 20 institusi, meliputi perwakilan enam instansi pemerintah (nasional, provinsi, dan kabupaten), sembilan organisasi konservasi, lima pemerintah desa, serta
peserta internasional dari berbagai lembaga mitra.

Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau, Irzal Fakhrozi menambahkan pentingnya berbagai praktik baik antarwilayah. "Harapan kami, dengan adanya acara ini, kita bisa saling berbagi cerita sukses, informasi, pengalaman, dan pengetahuan tentang perlindungan dan rehabilitasi mangrove.

Dengan demikian, kita dapat menambah referensi yang dapat diterapkan di daerah kita masing-masing," terangnya.
Pulau Bengkalis dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dianggap sebagai contoh nyata keberhasilan konservasi mangrove berbasis masyarakat. Salah satu capaian penting berasal dari Desa Teluk Pambang, area konservasi mangrove YKAN yang didukung oleh GMA.

Desa ini berhasil menekan laju degradasi mangrove hingga 96 persen, dari 27 hektare per tahun (2016 – 2021) menjadi hanya 1 hektare per tahun (2022-2024).
“Pulau Bengkalis memiliki paket lengkap untuk kegiatan konservasi, restorasi, dan rehabilitasi mangrove,” ujar Apri Susanto Astra, Programme Coordinator Coast and Delta Yayasan Lahan
Basah (YLB).

Keberhasilan di Teluk Pambang menunjukan bagaimana pendekatan berbasis masyarakat, ekologi, serta kelembagaan dapat berjalan selaras. Selain itu, Aji Wahyu Anggoro, Program Manajer Karbon Biru Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), menambahkan, “Kegiatan di Teluk Pambang menunjukkan bahwa konservasi mangrove dapat berhasil dengan pendekatan yang komprehensif, yaitu mulai dari pelibatan penuh masyarakat lokal, peningkatan kapasitas, pengelolaan berkelanjutan melalui skema perhutanan sosial, perumusan regulasi tingkat desa, hingga konsistensi penerapannya.”
Antusiasme masyarakat pesisir Pulau Bengkalis dalam berbagi pengalaman mendapat respons positif dari Irene Kingma, dari Wetlands International dan Global Mangrove Alliance. "Sangat menyenangkan melihat betapa kuatnya komunitas pelestari mangrove di Bengkalis.

"Kami menantikan untuk bekerja sama dengan mereka dalam mewujudkan ‘Mangrove Breakthrough, untuk Indonesia,"ujarnya.
Lokakarya ini diawali dengan diskusi strategis terkait regulasi, pendanaan, manfaat, serta dampak perekonomian dari konservasi mangrove berkelanjutan. Setelah itu, kegiatan ini disambung dengan kunjungan lapangan ke Desa Teluk Pambang, di mana kelompok mangrove
desa saling berbagi pengalaman dengan sesama pelestari mangrove tingkat nasional dan internasional.

Lokakarya pun diakhiri dengan pelatihan Global Mangrove Watch (GMW) untuk menunjukkan keterkaitan antara aksi-aksi di lapangan yang sudah dilaksanakan dengan target yang diusung GMA.
Rangkaian “Mobilizing the Mangrove Breakthrough Indonesia” Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia, yaitu sekitar 3,4 juta dari total 15 juta hektare mangrove global. Dengan posisi strategis ini, Indonesia menjadi negara prioritas dalam inisiatif internasional “Mangrove Breakthrough”, sebuah agenda kolaboratif yang diinisiasi GMA bersama UN Climate Change High-Level Champions serta berbagai mitra pemerintah, swasta, dan donor.
“Mangrove Breakthrough” menargetkan konservasi 15 juta hektare hutan mangrove di seluruh dunia pada 2030, melalui percepatan kolaborasi dan mendorong investasi skala besar untuk pelestarian ekosistem mangrove.
Di Indonesia sendiri, organisasi konservasi anggota GMA untuk mendukung Mangrove Breakthrough meliputi Wetlands International Indonesia, Yayasan Konservasi Alam Nusantara, dan Konservasi Indonesia.
Pada 2025 lalu, kolaborasi yang disebut sebagai GMA Indonesia Chapter ini telah menghasilkan Country Proposition Indonesia, sebuah konsep yang memuat
informasi terkait landscape partnership, mekanisme pendanaan, dialog kebijakan, peningkatan kapasitas, serta implementasi perlindungan dan pengelolaan mangrove di Indonesia.
Selain itu, Mangrove Breakthrough dan Country Proposition turut mendukung program pemerintah nasional,
khususnya rencana aksi nasional terkait perlindungan dan pengelolaan ekosistem karbon biru.

Lokakarya di Bengkalis merupakan langkah lanjutan untuk mengkonsolidasi Country Proposition tersebut dengan memperkuat jejaring multipihak dan mempercepat aksi lapangan. “Kerja sama sangat dibutuhkan untuk melestarikan dan memulihkan mangrove, dan GMA Indonesia Chapter memberikan contoh yang baik tentang kerja sama dalam tindakan,” ujar Benjamin Christ, peserta
lokakarya dari Impact by Design dan Global Mangrove Alliance.
Tentang Mangrove Breakthrough
Mangrove Breakthrough, sebuah inisiatif aksi global, bersama para mitranya mengupayakan mobilisasi pendanaan sebesar USD 4 miliar hingga 2030 dengan target konservasi 15 juta hektare mangrove, beserta masyarakat dan keanekaragaman hayati yang bergantung padanya.
Kami memberdayakan kolaborasi lintas sektor dengan memperkuat kebijakan nasional, menyusun jaringan global, dan mendorong pendekatan transformatif.

Mangrove Breakthrough diluncurkan pada COP27, yang mempertemukan pemerintah, organisasi non-pemerintah, peneliti, dan pihak swasta untuk memobilisasi secara kolektif empat tindakan berikut, yang dibangun berdasar prinsip-prinsip panduan yang dikembangkan oleh Global
Mangrove Alliance (GMA):
1. Mengurangi kehilangan mangrove yang disebabkan oleh manusia.
2. Melindungi dalam jangka panjang 80% mangrove yang tersisa.
3. Memulihkan mangrove untuk menggantikan setengah dari semua mangrove yang hilang.
4. Mendorong pendanaan berkelanjutan untuk konservasi mangrove.
Tentang Global Mangrove Alliance
GMA merupakan kolaborasi yang mempertemukan para ahli teknis, akademisi, organisasi masyarakat sipil, masyarakat lokal, dan lembaga pendanaan untuk mempercepat pendekatan
global yang komprehensif dan terkoordinasi terhadap konservasi mangrove skala besar. GMA
memiliki lebih dari 80 organisasi anggota yang tersebar di dunia, termasuk Indonesia.
GMA Indonesia Chapter dibentuk pada November 2022 untuk menciptakan sinergi dan penyelarasan kegiatan antar-pemangku kepentingan, serta mendukung segala hal terkait upaya perlindungan dan pemulihan ekosistem mangrove di Indonesia. Hingga saat ini, GMA Indonesia Chapter terdiri
dari Wetlands International Indonesia, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), dan Konservasi Indonesia (KI).#DISKOMINFOTIK.



